Puana Balang: Sepenggal Cerita dari Sungai Lebo’

0
331 View

Hidup memang tidak selamanya indah. Tidak pula semudah yang kita bayangkan dalam menjalaninya. Kadangkala ia butuh perjuangan dan kerja keras sedemikian rupa untuk menaklukkannya demi memenuhi kebutuhan.

Sepenggal cerita menarik penuh inspirasi datang dari sebuah sangai kecil di Dusun Lebo’ Desa Kohala Kecamatan Buki. Cerita tentang para pejuang menaklukkan kerasnya hidup dengan menambang pasir dan kerikil. Mereka mengeruk pasir dan mengumpul kerikil di sungai itu dengan alat manual yang sudah pasti memakan waktu yang tidak sedikit.

“I kambe monni Puana Balang, fotomakang nampa nupantamai ri facebook”, demikian ucap salah seorang perempuan penambang kepada Tebarnews.com dengan gaya kocak disertai tawa yang menyala. Dalam bahasa setempat ungkapan perempuan itu bermakna kamilah neneknya sungai dan fotolah kami lalu masukkan ke facebook.

Dari keterangan yang Tebarnews.com himpun (Rabu,  02/03/2017), aktivitas menambang pasir bagi penduduk di sepanjang sungai ini sudah berlangsung sangat lama. Mungkin waktu yang cukup lama menekuni pekerjaan dan selalu berada di sungai inilah yang dijadikan alasan mereka menggelari diri sebagai “Puana Balang”.

Sebagian anggota masyarakat telah menjadikan pekerjaan ini untuk menyambung hidup dan memenuhi kebutuhan. Bahkan dari hasil menambang ini, mereka membiayai pendidikan anak-anaknya hingga beberapa di antaranya telah mencapai gelar sarjana.

Harga untuk pasir yang mereka kumpulkan Rp 250.000, sedangkan kerikil seharga Rp 30.000 masing-masing perkubik. Bagaimana cara menjualnya? Mereka hanya menampung di sekitar sungai, setelah itu pembeli datang untuk mengangkutnya. Karena biasanya mereka bekerja secara berkelompok dengan jumlah anggota sebanyak 4 orang,  maka harga perkubik itu dibagi empat.

Sungguh merupakan sebuah perjuangan hidup, mengantungkan nasib dari butir pasir dan kerikil. (*)

Sumber: Tebar News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *